ini mas ridwan kamil
mbaakk...numpang ngeyup dong...
hihi..ojo rebutan mas..
Kamis, 29 Januari 2009
1. Wanita membutuhkan perhatian, dan pria membutuhkan kepercayaan.
2. Wanita membutuhkan pengertian, dan pria membutuhkan penerimaan.
3. Wanita membutuhkan rasa hormat, dan pria membutuhkan penghargaan.
4. Wanita membutuhkan kesetiaan, dan pria membutuhkan kekaguman.
5. Wanita membutuhkan penegasan, dan pria membutuhkan persetujuan.
6. Wanita membutuhkan jaminan, dan pria membutuhkan dorongan.
Betul gak????!!?!?!?
^_^v
Kamis, 22 Januari 2009
Bukan terpenting 'anggap siapa aku?'
Bukan terpenting 'anggap hubungan apa kita?'
Terpenting aku nyaman bersama ia
Terpenting jemari kami terpaut mesra
Meski ia, mereka atau siapa kan bertanya
Tentang siapakah diriku?
Biarkan mencipta sendiri
Mereka kan anggap siapa aku?
Karena bukan terpenting judul kebersamaan kita
Aku hanya lakon yang saling terpaut hati
Tiap kisah kita tercipta karena membutuhkan
Tiap cawan menengadah, kita saling mengisi
Karena terpenting ujud laku kami
Tak perlu pengakuan khalayak, kami nyaman bersama
Tiap luka tergores kami saling mengobati
Tiap kan terjatuh kami kan kuatkan genggaman
Tak perlu kau ungkap arti diriku
Karena matamu tlah memancarkan
Tentang kau 'anggap apa arti diriku'
Karena dari kecupmu aku tau
Kau 'anggap siapa aku'...
Makassar, 31 Desember 2008
Akan datang menjelang
Suatu masa yang tlah lama kita ketahui...
Hari dimana ku sadar harus melepasmu
Karena kau tlah bersama ia...
Kusadari ini sebelum kita memulainya
Kedekatan tanpa pengakuan dan ikatan
Yang menjadikan aku antagonis
Berperan layaknya duri dalam sekam
Sebuah babak menghampiriku
Dibalik layar terlihat kabut kebahagiaan
Tapi sekejap sirna saat teriknya fajar menyengat
Karena ia semu...
Apa ini kebahagiaan semu?
Yang kan melukai seseorang yang bahkan aku tak tau
Langkah membuatku terjerembab
Aku kehilangan kendali atas semua
Sungguh pun kuingin ini tak hanya sesaat
Karena ingin kukecup engkau tanpa risau
Dan engkau memanggilku mesra
Namun apa ini hanya inginku seorang?
Hanya hatiku bermain
Menunggu suatu saat itu kan datang
Hari dimana kau akan denganku
atau tanpa aku...
Kamis, 11 Desember 2008
Rumah eyang, persinggahan akhir pekan
Aku tiba Jumat dini hari di Kediri. Genduk yang mbukain pintu pagar. Tak lama, pintu ruang tamu terbuka. Dari balik pintu seorang wanita rapuh tersenyum padaku. ”Ah.. Eyangku sayang...”, aku menghambur ke pelukannya.
Rumah ini tak jauh beda sejak terakhir kali aku kesini. Tampak begitu Indish dan asri. Halamannya sangat rapi dan bersih. Berbagai tanaman dan bunga pun begitu berseri dan terawat. Hanya tubuh eyang saja yang kian merenta. Namun ia masih bersemangat untuk nyirami tanduran di sore hari. ”Yo iki sing marai waras, nduk...”, katanya sambil senyum-senyum. Hihihi... Memang, hanya eyang seoranglah yang ngurusi tanaman segini banyak.

Tinggal disini emang hommy banget. Gak perlu repot – repot mikir mau makan apa. Soalnya genduk dah nyiapin menunya. Hehehe. Dah gitu makanannya ndeso tapi echo. Cucok banget sama lidahku yang dah bosen sama junk food. Hm... Apalagi menu – menunya tuh kesukaanku. Menu andalannya sambel tempe, ayam kecap, oseng terong, dan sebangsanya. Aku jadi menikmati setiap waktu makan. Hahaha...

Banyak hal yang ngangenin disini. Gak cuma makanannya aja yang bikin kangen, tapi diomel – omelin eyang juga ngangenin, lho. Hihihi... Abisnya, eyang kan sendirian, gak ada yang bisa diomelin selain genduk. Jadi, kalo ada cucu – cucunya datang, pasti kesempatan buat ngomel. Kan tanda sayang... Hahaha...
Rumah eyang tuh ok banget! Aku dah ngulik setiap detil rumahnya dan ternyata rumah ini termasuk kuno. Bergaya Indish, berlantai ubin dan temboknya masih pasangan 1 bata. Walhasil, tiap ruangannya terasa adem. Jadi betah nongkrong di rumah seharian. Tapi kalo bosen pun di bagian depan dan belakang ada halaman yang penuh dengan berbagai binatang piaraan dan tanaman yang bisa ngilangin BT. Mulai dari merpati sampai ikan semua dipelihara eyang. Dulu malah ada ayam kate, tapi dah mati. Tanaman pun mulai dari cocor bebek sampai aneka tanaman buah ada disana. Jadi, emang nyenengin banget kalo lagi musim mangga, kita makan mangga sampe mabok. Hahaha...

Tapi kegembiraan ini sangat singkat. Sabtu paginya aku bergegas ke Juanda. Soalnya jam 14.00 Batavia - flight number 7P314 - yang mau nganterin ke Makassar dah take off. Mau gimana lagi, aku harus melanjutkan hidupku dan melepaskan kegembiraan ini untuk sementara. Hiks...
I’m gonna be miss u Grandma...
Sabtu, 06 Desember 2008
hari sendu..
Sering pula kita mengalami sesuatu yang diluar rencana kita.
Tak pelak hati kita pun disakiti oleh orang yang disayangi.
Di saat hati berkehendak, namun tak selamanya selalu kau gapai.
Saat hati dan pikiran dipenuhi hasrat akan ia...
Namun kau hanya bisa merelakannya pergi..
Demi dirinya..
Tak urung kau harus tersenyum dan menahan air mata yang terasa berat di pelupuk
Saat semua terasa tak mudah
Disanalah kita mengenal keikhlasan
Menerima apa yang telah menjadi rencanaNya.
Dan setingkat lagi aku belajar melakukan sesuatu demi kebahagiaan orang terkasih
Sungguh pun hati meronta menginginkan ia.
Dan meski hati berkecamuk melawan egoku
Kembali selaraskan aura dengan alur cerita alam
Aku memang bukan siapa-siapa..
Tapi semoga apa yang kulakukan bisa berarti baginya
Lalu setiap jengkal penderitaanku
Kan kembali cerahkan hatiku
dan pada saat tercerahkan
Aku kan bahagia karena tlah membuat ia bahagia
Rabu, 03 Desember 2008
Menelusuri Jalan Malioboro
Sabtu, 29 November 2008
Dari sekian banyak kegiatan Peta Hijau Jogja, Sabtu (29/11/08) kemarin merupakan pertama kalinya kami mengadakan workshop bekerja sama dengan jurusan Arsitektur Universitas Tehnologi Yogyakarta (UTY). Berbeda dengan workshop Green Map Kampus UMY yang mengeksplorasi kampus mereka, kali ini kami memilih obyek amatan di penggal jalan Malioboro. Hal ini karena workshop yang berlangsung sehari ini dimaksudkan untuk meningkatkan rasa kepekaan mahasiswa dalam melihat suatu ruang
* * *
Tepat jam 09.00 acara dimulai. Beberapa anak muda sudah berada dalam ruang yang akan digunakan untuk pemberian materi singkat tentang Green Map. Setelah pengantar singkat dari Bu Tisna, workshop pun dimulai dengan penjelasan singkat tentang metode Green Map yang dijelaskan oleh Cipi. Pak Punto kemudian melanjutkan dengan memberi gambaran singkat tentang kawasan Malioboro.
Setelah pengantar tersebut, sekitar jam 10.30 seluruh peserta berangkat menuju ke Malioboro. Kami berangkat beriringan sesuai dengan kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Fasilitator yang kali ini – Cipi, Thomas, Sita dan Anang – juga turut mendampingi mereka.
Kami pun langsung menelusuri jalan Malioboro. Jalan ini memang merupakan cikal bakal kawasan perekonomian
Tak butuh waktu lama untuk menemukan hal – hal yang lebih dari sekedar Pasar Beringharjo dan Benteng Vredeburg yang telah akrab dengan masyarakat. Misalnya saja Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) yang dibangun sejak masa kolonial. Fisik bangunan bergaya Indish tersebut masih terawat. Namun yang tak banyak orang tahu, ternyata pelataran parkir gereja ini telah menjadi tempat parkir yang dikelola oleh masyarakat sekitar sejak 50 tahuun silam. Hanya pada hari Minggu saja pelataran itu digunakan oleh umat Kristiani yang hendak beribadah di gereja tersebut. Selain itu kami menemukan usaha kecil kerajinan yang menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan.
Setelah berkeliling sekitar 1 jam, kami mengkompilasi data temuan di Taman Budaya
Walau lelah dan berpeluh, namun acara yang dipimpin oleh Cipi ini terbilang sukses. (Muji diri sendiri...Hahaha...) Terbukti dari respon positif para peserta yang aktif dalam proses pembuatan Peta Hijau kali ini. Wah, rasanya tidak sabar untuk ber-Peta Hijau lagi dengan teman – teman UTY.
Fasilitator Workshop Green Map bekerja sama dengan UTY:
1. Cipi
2. Thomas
3. Sita
4. Anang
Kamis, 20 November 2008
Jelajah Arsitektur Bandung
“Wow!”, itulah kata yang pertama terlontar saat melihat keindahan bangunan – bangunan
Banyak kenangan menarik saat perjalanan pertamaku ke
Itulah sedikit kilasan tentang
Menurut penuturan Wiryomartono (1995), Albers merupakan arsitek modernis yang banyak terpengaruh oleh gerakan De Stijl (J.P. Oud dan T. Van Doesburg) dan Gerrit T. Rietveld. Ia bekerja di
Lain halnya dengan
Tak jauh beda dengan Pont, Wolf Schoemaker pun tak pernah lelah mencari dan memperkaya desainnya dengan berbagai sumber, termasuk bangunan tradisional Indonesia dan Seni Dekoratif Frank Lloyd Wright awal 1920-an. Pengaruh F. L. Wright secara nyata tampak pada Hotel Preanger rancangannya yang “serupa tapi tak sama” dengan Hotel rancangan F. L. Wright di Tokyo (1915-1925). Karya Schoemaker yang tersebar di
Perjalanan sejarah arsitektur
Dari contoh kecil diatas, kembali kita melihat Kota Bandung yang kemudian berkembang seperti
Achmad Noe’man, pria paruh baya ini berhasil menuangkan gagasannya dalam bangunan Masjid Salman yang layak disebut sebagai tonggak arsitektur masjid paling penting dalam pembaruan bangunan masjid – masjid di
Kemudian muncul nama Baskoro Tedjo yang berhasil menyikapi alam dengan bijak dalam karyanya Selasar Sunaryo Art Space. Ia mengolah desainnya dengan merespon perbedaan kontur alam menjadi nilai positif dalam permainan ketinggian lantai bangunannya. Disamping itu ia juga berusaha meminimalisir penebangan pohon yang sering menjadi ‘korban’ dalam penciptaan bangunan baru. Terlebih lagi site yang dipilih merupakan daerah perbukitan yang masih hijau. Tentunya ia tak ingin dituding menjadi arsitek yang merusak alam. Galeri yang terletak di Bukit Pakar Timur ini pun banyak menggunakan material alam seperti batu alam, bambu dan bata merah tanpa plester yang semakin menyelaraskan bangunan ini dengan alam sekitarnya.
Selasar Sunaryo Art Space lahir dengan nama “Selasar Seni Sunaryo” sejak tahun 1994. Bangunan tersebut berdiri diatas tanah seluas 5000 m2. Bentukan dasar dari bangunan ini terinspirasi dari “kuda lumping” yang merupakan salah satu peninggalan budaya
Hingga kemudian kami mampir ke sebuah biro Urban-e, rintisan Ridwan Kamil dan teman – teman sebagai arsitek yang memiliki rasa kepekaan terhadap
Dari Utara hingga Selatan penjelajahan
Terima kasih bagi siapa saja yang telah meluangkan waktu untuk membacanya…